一封信

January 30th, 2009

无意中发现了一封过去的信,读了一遍让我满伤感的

这封信是一封道别信, 也是一封充满希望的一个。

在里面写着期望还有很多的回忆,让我想起了一些画面

一些永远也不能再从来的幸福。

在她离开的这一段时间让我改变了不少,学会了这么调正情绪

也学会了这么关心另一半的感受,

也许在现实中无法实现的和我脑海里的一样完美,可是我门都在学习的过程中。。。

难道一个人的过错就真的这么不可原谅, 都比不上这些年在一起的幸福和快乐吗?

也许爱情真就像古人说的,

它要来这的时候么挡都挡不住,要走就会像风一样

无论这么样都无法把它抓住。。。

范™

August 10th, 2008

" Impian Seorang Mahasiswi "

Hari pertama kuliah di kampus,
profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan
seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling
ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya.

Saya menengok
dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang
dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah. Ia menyapa,
"Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh.
Maukah
kamu memelukku? "Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya, "Tentu
saja boleh!". Dia pun memberi saya pelukan yang sangat erat.
"Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih begitu muda dan tak berdosa seperti ini?" tanya saya berolok-olok.
Dengan
bercanda dia menjawab, "Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya,
menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian."

"Ah yang serius?" pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya.
"Saya
selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya
sedang mengambilnya! " katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan
menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake.
Kami segera akrab.
Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami
pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu
terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman dan kebijaksanaannya.
Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah
dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan
perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya
suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk
berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan
pernah lupa apa yang diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik
ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah
dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai.
Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan
berkata, "Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi
wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali,
maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu."

"Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua.
Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada rahasia untuk tetap awet muda, tetap menemukan humor setiap hari.
Kamu
harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati.
Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun
mereka tak menyadarinya. "
"Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua
dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan
berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan
apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya
berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama
satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan
puluh delapan. Setiap orang pasti menjadi tua.
Itu tidak membutuhkan
suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari
kesempatan dalam perubahan." "Jangan pernah menyesal.
Orang-orang
tua seperti kami biasanya tidak menyesali apa yang telah diperbuatnya,
tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat.
Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."

Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose". Dia menantang setiap
orang
untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah
diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose
meninggal dunia dengan damai. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri
upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang
mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat
untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, menjadi tua adalah
kemestian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.

* * * * *
Sediakan waktu untuk berpikir, itulah sumber kekuatan.
Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.   

Notes :
dikutip dari mailist, ini cerita bagus bgt….

Poet

July 7th, 2008

i was just found a movie in my collection, i had bought it for a long time but never watch it, after i watched it i found a poet that very deep.

I WONDER by my troth, what thou and I
Did, till we loved ? were we not wean’d till then ?
But suck’d on country pleasures, childishly ?
Or snorted we in the Seven Sleepers’ den ?
‘Twas so ; but this, all pleasures fancies be ;
If ever any beauty I did see,
Which I desired, and got, ’twas but a dream of thee.

And now good-morrow to our waking souls,
Which watch not one another out of fear ;
For love all love of other sights controls,
And makes one little room an everywhere.
Let sea-discoverers to new worlds have gone ;
Let maps to other, worlds on worlds have shown ;
Let us possess one world ; each hath one, and is one.

My face in thine eye, thine in mine appears,
And true plain hearts do in the faces rest ;
Where can we find two better hemispheres
Without sharp north, without declining west ?
Whatever dies, was not mix’d equally ;
If our two loves be one, or thou and I
Love so alike that none can slacken, none can die.

The Good Morrow by John Donne

forbidden kingdom !!!

April 30th, 2008

hmm…
等了好久终以等到了 !
上个礼拜才去看了亦菲合成龙大哥还有李联杰的电影,虽然对这一部电影的故事有
点失望可是成龙大哥和李联杰的对打戏真的很精彩,可是说真的我最期待就是看亦
菲在这一部电影。我觉得亦菲在这一部电影没有设么机会发挥她的演技也许也是应
为戏份不够多,亦菲在这部电影里面大多数这是靠着她的表情来表达,有时候真的
真的好想去亦菲粉丝具乐部所作的活动。住在印尼就是这样啦,想见的偶像都不能
见到
如果亦非有比较多的戏份,我相信她一定能做的更好的。加油亦非 !!!

亦菲的梦中情人。。。。

July 9th, 2007

刘亦菲仿佛一直像笼罩在一个神秘的光圈里──拍戏自备福特豪华房车;爱收集昂贵
的水晶摆件;有几十个芭比娃娃;请英国剑桥大学高材生做家教,教授英语和欧洲
社交礼节;度假时到夏威夷泡沙滩、到毛里求斯晒太阳、到维也纳听新年音乐会;
还能出演无数美女打破头也抢不到的瞩目角色
  她的人生注定要非比寻常,而这传奇才刚刚开始。
  刘亦菲准时到摄影棚,安静地坐下来休息,她已经是19岁的大姑娘,开始告别
Baby face,脸颊迅速瘦了下来,但身上仍旧散发着一种不沾烟尘的纯洁气质。
  她声音细细弱弱的,一个问题需要想上半天才会给一个简单的答案,但爱笑,
笑起来憨憨的。做发型时她被烫到,先是反射性的惊叫,然后赶紧连声说不疼不疼,
生怕化妆师会过意不去,这个小细节让我感觉到这个小姑娘出自本心的良善。
  但翻一翻这几年网络上针对她的妖魔化的报道:年龄、身世、学历、整容越传
越恶劣,让人还真佩服这女孩无比坚强的心理承受力。而今她已经越来越会面对媒
体,她懂得微笑地对着“发难”的记者说:“我不想对这些无聊的问题发表看法。”

  年轻是最大的资本
  过去的半年,刘亦菲都是以最年轻的访问学者身份在斯坦福大学进修,并备考
该校的音乐系研究生,已经过了二试,但接到了《功夫之王》的金燕子一角邀约,
和成龙李连杰合作的极大诱惑让她不得不搁置学业。
  “只能明年再去考了,但有了今年的经验,我相信明年考试会更顺利一些。而
且我的年纪还轻,如果我真的是25岁了,我肯定不会再去学那么多东西。但现在就
算我读完硕士,可能还要比他们一些大学毕业生要年轻一点,再者多学点东西肯定
会受益匪浅,我觉得学习还是挺有意思的。”
  拍《功夫之王》对刘亦菲是个挑战,这部纯好莱坞投资的大片,将是她进军国
际影坛的一块敲门砖,戏中的金燕子角色类似于《哈里波特》里的赫敏,会拳打脚
踢,会独门暗器,会时光穿梭,采用的也是大量的英文对白。这让她不敢懈怠,提
前数月就开始全身心地投入角色的筹备之中,除了强化英文,还要接受功夫的“地
狱式”训练。
  她绝不是我们外表看到的在温室里长大的娇娇女,拍《神雕侠侣》时,冬天要
跳进冰河;雨天要在泥水里滚;每天都要吊威亚在几十米的高空中拍高难度动作;
还要骑在直立的马上狂奔;最长试过两天三夜不瞌眼
  “其实我是个很能吃苦的人,也许每个人的潜力自己都不会完全了解,拍《神
雕》是对我意志上的一次很大的磨炼。”
  但是作为演员,工作时间的不固定,片场高强度灯光的辐射,外景地阳光的炽
烈暴晒,还有皮肤长时间的带妆,都像是一个个无影杀手无时无刻在伺机催毁着她
的健康和美丽。怎么保护自己?除了妈妈在饮食起居方面的点滴照顾外,刘亦菲也
有着自己的心得。
  “睡眠是最关键的,睡眠不足任何保养品和滋补品都没有用,但这也是我最没
有办法控制的,惟一的方法就是找一切机会补觉,有空就闭眼睛休息。”为此她还
练就了在哪儿都能睡着的本事。
  “运动也是每天都坚持在做的,不用受环境的限制,有一块空地都可以做拉伸
动作,还可以跑步。不工作的话我就会常去健身房做一些肌肉上的训练,最近还在
练瑜伽,但我觉得锻炼的最全面的其实是跳舞,全身的每一处肌肉都可以活动到。”

  对未满20岁的刘亦菲来讲,年轻是最大的资本,就算体力透支了也还可以补回
来,但再过几年她就不会那么拼命和轻易虐待自己,“除非是特别好的戏,我的动
力很大部分来源于我对角色和对那部戏的喜爱程度。”
  爱丽丝梦游仙境
  出道几年来,不管去到哪里,刘亦菲的那个舞蹈演员出身的漂亮妈妈都会一直
跟在身边,照顾她的饮食起居,并担当着经纪人的工作。她们之间的关系用刘亦菲
的话来讲,除了是母女,还是无话不谈的好朋友。“其实妈妈对我的影响挺大的,
但是她从小也没有刻意要求我怎么样。我从小到大都没有所谓的叛逆期,妈妈和我
比较像朋友,没有管我特别严厉的时候。妈妈说什么我都会听,因为知道她是为我
好。”
  网上的很多传闻她并不十分清楚,因为妈妈出于保护心理没有让她去看那些报
道,但总被人问,她多少还是知道一些,“我觉得不会影响到我,从小到大我其实
都有点傻傻的,我身边的人都知道我是特别好说话的人,很多事情不会放在心里,
我可能会因为一件事情很生气,但是不计仇,过去就算了,我永远都不会计仇,大
大咧咧的。其实我心里还是挺坚强的。”
  她其实很像她演过《仙剑奇侠传》里的赵灵儿,本是一个受保护的快乐少女,
在仙灵岛过着神仙一般的生活。天真如白纸,潜力却深不见底;柔弱如婴儿,勇气
却不能估计;无知如傻子,心境却特别澄明。
  只有这样依旧天真无邪的女孩儿,才可以在回应和郎朗的绯闻时,心无城府地
说,“我觉得弹钢琴和弹棉花没什么不一样啊!”
  那么可爱的回答,让人看穿了她还只是个小孩子。所以她喜欢看的是侦探小说
和电影,最爱去游乐场玩儿,胆子还特别大,不久前才在日本排了半小时的队玩了
号称世界最高的跳楼机,但刘亦菲说,那样的游戏试过一次就可以了。喜欢新鲜,
但懂得适可而止,这也是她性格的一部分。
  她最好奇的仍是卡通世界,总希望自己能像爱丽丝一样梦游仙境,变成里面的
人或动物,去见识一下那个可以天马行空的世界究竟是什么样子。“你不觉得那个
世界跟我们太不一样了吗?宫崎峻的《龙猫》里的那些小动物,怎么都那么可爱啊。”

  跟同龄的女孩子一样,她也喜欢玩具和布偶,现在已经积攒了近百个芭比娃娃,
每天晚上,这些娃娃陪伴她进入梦乡,她最喜欢的是一款限量发售的陶瓷芭比:纤
柔的线条、艳丽的晚装、腕上轻挽着一个鸡蛋手提袋,手套梳子一应俱全。
  而收藏水晶饰品是她另一个兴趣爱好,朋友们都带点羡慕的叫她“crys-tal”。
在她的家里,珍藏着一柜子的水晶摆件,自从一次过生日,妈妈送给她第一顶水晶
小红帽后,她的水晶童话便开始了。
  无论是拍戏还是旅游,每到一地,她的第一件事就是逛水晶店;过生日,别人
问她要什么,答案永远只有两个字:水晶;每次拍完戏回家,她都会拿天鹅绒布一
件一件的擦拭这些宝贝,而且从来不让别人碰一下,随着水晶摆件的增多,原先的
柜子装不下,她还专门到水晶展览会上买了一个展柜回家。
  期待单纯浪漫的爱情
  刘亦菲15岁时就被破格录取进入北京电影学院表演系学习,是这个班里年纪最
小,但同时又是接戏机会最多、名气最大的一个学生,在班上,甚至都会有同学帮
自己的亲朋好友找她要签名。
  她的个性是属于内向,不擅主动交朋友的类型,而在电影学院的四年,她有大
半时间在外拍戏,所以同学里并没有特别亲密的知交好友,“入学的时候,他们都
觉得我太小了,大家谈不来其实我都没有太多机会和他们说话,他们开始觉得跟我
没什么共同的话题。但后来接触的时间长了,他们觉得其实我还是挺懂事的。” 
  从小到大,刘亦菲交的朋友都是比她大很多的,“我10岁那会儿有一帮空姐的
朋友,因为我经常到处被‘寄’来‘寄’去,好比说我妈在外地演出,可能我一个
人过去找她,就会托空姐把我带过去。所以我当时有特别多的大朋友。她们什么话
都跟我说,我觉得跟这些大人相处可以学到一些东西吧,成长得很快。”
  尽管很早就有了周游列国的经历,但刘亦菲最喜欢的还是美国,在那边生活的
短短四年时间给了她太多美好的回忆。最难忘的是在美国度过的第一个万圣节,这
一天小朋友们都挨家挨户的敲门要糖,她就曾和四五个小伙伴一起从下午5点出去,
到晚上9点还没回来,把妈妈吓得差点报警。她的大部分知心朋友也是那个时期交的,
至今仍保持着联络。其中有一个俄罗斯的女孩儿,永远梳着两条长长的麻花辫,她
是亦菲心目中真正的公主。
  她也喜欢欧洲,但更向往的是18世纪的欧洲,她喜欢那个时期华丽的城堡、漂
亮的宫廷礼服、可以为爱剑挑情敌的英俊王子。
  19岁的刘亦菲至今还没有谈恋爱的经历,但却要在戏里面和许多帅哥谈情说爱,
曾经就有媒体质疑过她如何把握爱情戏,她觉得不是问题,“不是一定要有感情经
历才会演感情戏,导演会指导我怎么做。”对于爱情她仍抱着像小龙女那样浪漫单
纯的想像,但就目前而言,她觉得以自己的年纪谈爱情还太早了点儿。
  刘亦菲坦言自己心目中最有魅力的男人是布拉德?彼特,“他很帅,也是有实力
的演员。我很小的时候就看过他演的《夜访吸血鬼》,他演那种另类的、变态的角
色也非常生动。”而在女演员中,她的榜样是奥黛丽赫本,能成为赫本一样兼具美
丽知性优雅和爱心于一身的女人是刘亦菲最大的梦想,亦是她一生努力的方向。撰
文:沈多 摄影:娟子(大雅风尚)

*A Game of Success: Tips 150 - Kendalikan Emosi Anda*

April 29th, 2007

Semuanya sudah siap. Kami sudah datang pagi-pagi untuk mensetting ruangan
workshop hari itu. Saya sendiri, merasa fit dengan tidur yang cukup dan
sudah sholat malam. Kata ulama, sholat malam bisa membuat kita berkomunikasi
lebih baik pada siang hari berikutnya. Saya percaya, yakin, dan memang
melakukannya. Walaupun jujur saja, nggak sering-sering amat.

Doa juga sudah Saya panjatkan. Sejak dari jalan tadi Saya sudah berdoa
sampai beberapa kali. Doa yang biasa Saya panjatkan adalah doa "sukses
presentasi" ala Nabi Musa As. Ya, semuanya sudah siap kecuali satu hal;
proyektor LCD. Petugas hotel yang biasanya memasang barang satu itu belum
nongol juga. Tapi Saya tenang-tenang saja. Biasanya memang begitu kok. Nanti
beberapa menit sebelum acara dimulai, barulah dipasangnya.

Sampai waktunya workshop itu harus dimulai, benda yang satu itu tak
muncul-muncul juga. Saya tidak melihat adanya "penampakan" di meja yang
biasa jadi tongkrongannya. Kosong melompong. Saya mulai bertanya-tanya ada
apa. Staf Saya mengatakan bahwa LCD proyektor sedang dalam perjalanan. Lha!
Bukankah benda itu punya hotel sini? "Dipakai hotel lain yang segrup", kata
salah satu petugas hotel.

*EMOSI ANDA PUNYA ENERGI*

Sepuluh menit belum juga. Sesuatu mulai menjalari Saya. Anda tahu rasanya?
Bagi beberapa orang, kegagalan menyediakan perlengkapan yang memang sudah
direncanakan pemakaiannya, bisa menjadi bencana. Malah, itu juga bisa
identik dengan kegagalan presentasi itu sendiri. Bagi Saya juga sama, itu
bisa berarti kegagalan workshop Saya.

Darah Saya sudah mulai berkumpul di ubun-ubun. Saya marah. Bukankah Saya
sudah persiapkan sebelumnya? Bukankah staf Saya sudah membookingnya beberapa
hari yang lalu?

Saya sedih. Apa jadinya workshop itu tanpa slide yang memang sering Saya
presentasikan?

Saya kecewa. Dan bagaimanakah kecewanya para peserta? Apa yang Saya
bayangkan pada saat itu, adalah marah, sedih, dan kecewanya mereka.

Kemudian Saya sadari sesuatu. Apa yang perlu Saya lakukan dalam situasi itu
adalah bukan memperburuknya, melainkan memperingannya. Saya cukup heran
bahwa dalam kondisi seperti itu, Saya masih bisa berpikir cukup jernih.
Alhamdulillah. Lantas apa yang harus Saya lakukan?

Saya maju ke depan, mengucapkan salam, berbasa-basi sedikit, lalu
memulainya. Saya tahu persis bahwa wajah Saya memerah karena campuran segala
perasaan. Sedih, marah, kecewa, malu dan entah apalagi. "Bapak dan Ibu
sekalian, Anda lihat di depan tidak ada LCD proyektor. Biasanya ia ada di
sana, dan hari ini entah kemana. Apakah menurut Anda Saya marah? Ya Saya
marah!" Saya mengatakan itu dengan setengah berteriak. "Mari kita mulai!
Mari Saya tunjukkan bagaimana Saya marah!"

Setahu Saya, kita bisa melupakan penyebab kemarahan, akan tetapi kita cukup
sulit untuk meredam energinya. Saya bertekad untuk melupakan kemarahan Saya,
tapi Saya akan menggunakan energinya untuk workshop Saya.

Hari itu, energi Saya jauh lebih besar dari biasanya. Saya bahkan seperti
lupa bahwa satu jam kemudian, benda yang Saya tunggu akhirnya datang juga.
Tapi Saya, sudah terlanjur "ngamuk". Tahukah Anda bagaimana akhirnya?

Sampai di rumah Saya letih luar biasa. Tapi dari feedback staf Saya dan para
peserta, Saya menemukan bahwa hari itu, adalah salah satu workshop terbaik
Saya!

*KENDALIKAN EMOSI ANDA*

Emosi Anda adalah energi besar. Kekuatannya tak pernah bisa Anda bayangkan.
Kejadian di Virginia Tech adalah emosi. Orang berantem di televisi adalah
emosi. Bahagianya Tamara Blezinski ketemu Rasha adalah emosi. Emosi adalah
energi yang bisa positif dan bisa negatif. Anda, tentu saja ingin emosi Anda
selalu positif. Bagaimana me-manage-nya? Ada caranya.

Berikut ini adalah ringkasan dari buku "I Create Reality - Beyond
Visualization: How You Can Use Holographic Creation to Manifest Your
Desires!" karangan Christopher Westra yang dikenal dengan HoloCreation
Techniques-nya.

*1. Bertanggungjawablah atas Emosi Anda*

Mungkin, saat ini Anda belum terlalu mempercayainya. Namun demikian tetaplah
katakan ini pada diri Anda, saat Anda marah, sedih, kecewa, putus asa, atau
bahkan berbahagia:

*"Sayalah yang menciptakan realitas Saya, dan sekarang Saya sedang
menciptakan emosi ini."*

Biasanya, Anda tidak pernah melakukan langkah pertama ini. Mengapa? Karena
Anda lebih percaya bahwa keadaan atau situasai di luar Andalah yang
menyebabkan emosi Anda.

*2. Beri Nama untuk Emosi Anda*

Memberi nama pada emosi akan memperjelas pemahaman Anda tentang emosi itu.
Ini juga akan meningkatkan kesadaran Anda tentang emosi itu. Tidak cukup,
jika Anda menyebut emosi itu hanya dengan "sedih", "marah", "jelek", "bagus"
dan sebagainya.

*"Aku lagi biru"
"Gue emang lagi ngehek"
"Saya sedang hitam"
"Aku lagi kena emosi nomor dua belas"
"Saya sedang mengalami kram otak"
"Aku kayaknya lagi kena racun cinta" *

Semakin spesifik Anda menamainya, semakin jelas, lengkap, dan spesifik
inventory emosi Anda. Hafalkan untuk identifikasi di masa depan.

*3. Biarkan Berlalu Penyebabnya*

Lupakan, apapun yang di luar diri Anda yang Anda anggap menjadi penyebab
emosi Anda, tapi pertahankanlah emosinya. Ingat, Anda tetap harus
mengontrolnya. Apa yang Anda lakukan, adalah memisahkan "penyebab emosi"
dari emosi itu sendiri. Kini, emosi Anda menjadi lebih obyektif sifatnya.
Benda obyektif yang sudah punya nama.

*4. Hargai Emosi Anda*

Hargai emosi Anda. Sebab dengan itu, Anda ternyata masih manusia. Menghargai
emosi tidak berarti menghakiminya dengan "baik" atau "buruk". Hargai
keberadaannya sebagai pelengkap kemanusiaan. Hargai keberadaannya dan bukan
sifat atau pengaruhnya. Ini adalah langkah penting dalam rangka menuju ke
poin berikut ini.

*5. Rasakan Emosi Anda*

Kini, Anda rasakan lagi emosi Anda dengan cara yang berbeda. Tanpa
penghakiman dan sikap bertahan, rasakan saja. Bila perlu, rasakan di mana
letaknya. Di kepala Anda, di dada Anda, di telinga Anda, di wajah Anda, di
mana saja di bagian tubuh Anda. Anda kini mengobservasi emosi Anda dengan
obyektif. Ingat, tanpa penghakiman dan sikap bertahan.

*6. Dapatkan Penjelasan*

Anda telah dilingkupi oleh semangat untuk belajar dan tumbuh. Mulailah
mencari alasan yang menciptakan emosi Anda. Waspadai yang satu ini: Jangan
kembali ke "penyebab eksternal" sebab Anda sedang ber-internalisasi.
Penyebab emosi Anda adalah Anda sendiri, bukan sesuatu yang di luar Anda.
Bertanyalah,

*"Apa yang perlu Saya pelajari dari emosi ini?"
"Keyakinan melenceng apa di dalam diri Saya, yang menciptakan emosi ini?"*

*7. Identifikasi*

Berilah waktu untuk jawabannya. Your answer will come. Di dasar setiap emosi
negatif, selalu ada keyakinan yang tidak tepat.

*Apakah Anda merasa "harus" membuat semua orang senang?
Apakah Anda merasa tidak akan bisa disukai jika "tidak sempurna"?
Apakah Anda bahwa semua orang "harus" mengikuti Anda?
Apakah Anda merasa diri Anda "tidak bernilai"?*

*8. Tukar Keyakinan Anda*

Pilihlah keyakinan yang lebih baik untuk menggantikan keyakinan negatif
Anda. Katakan dengan eksplisit,

*"Sekarang Saya memilih untuk menolak keyakinan ini, dan menggantinya dengan
keyakinan ini."*

Pada empat langkah terakhir, Anda akan merasakan sesuatu yang luar biasa.
Emosi negatif Anda pergi, dan sepenuhnya digantikan dengan sesuatu yang
lain. Mengapa ini bisa terjadi? Kuncinya, ada pada kejelasan dan naiknya
kesadaran.

Pernah mendengar "control illusion"? Dengan mengikuti amarah, Anda merasa
mengendalikan sesuatu, padahal Anda yang sebenarnya berada di bawah kendali
emosi. Upaya Anda untuk mengendalikan emosi, tanpa Anda sadari adalah
sebentuk penolakan. Dan jika Anda melakukannya dengan memaksa diri, maka
Anda bisa menderita selama beberapa jam. Ketahuilah, itu menggerogoti Anda.

Dengan langkah yang tepat dalam membiarkan diri merasakan emosi, Anda akan
bisa merasakan emosi sesuai kegunaannya. Untuk belajar, untuk tumbuh, untuk
dewasa, untuk tidak menjadi destruktif, untuk menjadi lebih berbahagia.

10 KESALAHPAHAMAN TENTANG SUKSES

April 29th, 2007

Kesalahpahaman 1–

Beberapa orang tidak bisa sukses
karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain.
Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan.
Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian
melakukan sesuatu untuk mencapainya.

Kesalahpahaman 2–
Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan.
Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan
sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak
melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.

Kesalahpahaman 3–
Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90…) seminggu.
Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja.
Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.

Kesalahpahaman 4–
Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan.
Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi
membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang
harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang
membuat aturan itu.

Kesalahpahaman 5–
Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses.
Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum.
Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain
dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada
banyak sekali orang semacam itu.

Kesalahpahaman 6–
Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses.
Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan. Namun,
diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan
penerapan.

Kesalahpahaman 7–
Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.
Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang
diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.

Kesalahpahaman 8–
Sukses adalah bila semua orang mengakuinya.
Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan
dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya
anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.

Kesalahpahaman 9–
Sukses adalah tujuan.
Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan
goal anda. Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan,
maka ajukan pertanyaan "atas hal apa?"

Kesalahpahaman 10–
Saya sukses bila kesulitan saya berakhir.
Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan. Anda tetap
harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami
di masa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan
hidup setiap hari sebagaimana adanya.

(diadaptasi dari "The Top 10 Misconceptions About Success",
Jim M. Allen. CoachJim.com) and HUNGKWE.com

Lihat Kegagalan dari Honda

September 18th, 2006

SOICHIRO HONDA : "Lihat Kegagalan Saya"

Cobalah amati
kendaraan yang melintasi jalan raya.
Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik
berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas,
sehingga layak dijuluki "raja jalanan".

Namun, pernahkah Anda tahu, sang
pendiri "kerajaan" Honda - Soichiro Honda - diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur,
lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia bukan
siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan,
selalu menjauh dari pandangan guru. "Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak
bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda," tutur tokoh ini,
yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat
mengindap lever.

Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi
kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun
ia trus bermimpi dan bermimpi…

Kecintaannya kepada mesin, mungkin
‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo,
distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel,
ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain
di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor
penggeraknya.

Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat
berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil,
hanya ingin menyaksikan pesawat terbang.<!–
D(["mb","

Ternyata, minatnya pada mesin, \ntidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda \npancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan \notomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak \ntampan, sehingga membuatnya rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah \nke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang \nmelihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara \nyang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam \ntahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada \nusia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. \nTawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap \nmembaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya \npun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam \nkerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. \nPada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam \ngoncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. \nHasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh \ndunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.

Setelah \nmenciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel \nsendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada \npembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. \nSayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi \nstandar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi \nteman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari \nbengkel.

Kuliah

Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup \nserius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin \nbengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari \njawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, \nsetelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan \npengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia \nakhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.",1]
);

//–>

Ternyata, minatnya pada mesin,
tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda
pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan
otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak
tampan, sehingga membuatnya rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah
ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang
melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara
yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam
tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada
usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu.
Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap
membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya
pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam
kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif.
Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam
goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam.
Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh
dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.

Setelah
menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel
sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada
pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938.
Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi
standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi
teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari
bengkel.

Kuliah

Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup
serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin
bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari
jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari,
setelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan
pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia
akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.<!–
D(["mb","

"Saya merasa \nsekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan \nbertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya," ujar Honda, yang \ngandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan \nmencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap \npenghinaan.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. \nPihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh \nmalangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. \nIa pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk \nmendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya \nterbakar dua kali.

Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas \nmengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang \ndibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. \nTanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan \nmenjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa \nusaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947,setelah perang \nJepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. \nSampai-sampai Honda tidak dapatmenjual mobilnya untuk membeli makanan bagi \nkeluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa \nsangka, "sepeda motor" - cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu diminati oleh \npara tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. \nDisinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak \npernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi "raja" jalanan \ndunia, termasuk Indonesia.

Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat \nkeberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah \nkegagalan-kegagalan yang dialaminya. "Orang melihat kesuksesan saya hanya satu \npersen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", tuturnya. Ia memberikan \npetuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah \nmimpi baru dan berusahalah untuk merubah mimpi itu menjadi \nkenyataan.",1]
);

//–>

"Saya merasa
sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan
bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya," ujar Honda, yang
gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan
mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap
penghinaan.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima.
Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh
malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana.
Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk
mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya
terbakar dua kali.

Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas
mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang
dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik.
Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan
menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa
usaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947,setelah perang
Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda.
Sampai-sampai Honda tidak dapatmenjual mobilnya untuk membeli makanan bagi
keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa
sangka, "sepeda motor" - cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu diminati oleh
para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok.
Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak
pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi "raja" jalanan
dunia, termasuk Indonesia.

Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat
keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah
kegagalan-kegagalan yang dialaminya. "Orang melihat kesuksesan saya hanya satu
persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", tuturnya. Ia memberikan
petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah
mimpi baru dan berusahalah untuk merubah mimpi itu menjadi
kenyataan.<!–
D(["mb","

Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih \nseseorangdengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari \nkeluarga miskin. Jadi buat apa kita putus asa bersusah hati merenungi nasib dan \nkegagalan. Tetaplah tegar dan teruslah berusaha, lihatlah Honda sang "Raja" \njalanan.

5 Resep keberhasilan Honda :

1. Selalulah berambisi \ndan berjiwa muda.

2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, \nkhususkan waktu memperbaiki produksi.

3. Senangilah pekerjaan Anda dan \nusahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.

4. Carilah irama kerja \nyang lancar dan harmonis.

5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja \nsama.

\n

\n


\nAll-new \nYahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster. \n

__._,_.___ \n

Messages \nin this topic (1) Reply (via web post) | ",1]
);

//–>

Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih
seseorangdengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari
keluarga miskin. Jadi buat apa kita putus asa bersusah hati merenungi nasib dan
kegagalan. Tetaplah tegar dan teruslah berusaha, lihatlah Honda sang "Raja"
jalanan.

5 Resep keberhasilan Honda :

1. Selalulah berambisi
dan berjiwa muda.

2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru,
khususkan waktu memperbaiki produksi.

3. Senangilah pekerjaan Anda dan
usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.

4. Carilah irama kerja
yang lancar dan harmonis.

5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja
sama.

Kegagalan Bukan Akhir Dari Segalanya
Kegagalan Adalah Induk Dari kesuksesan
Kegagalan adalah Awal dari segala Kesuksesan

TUKANG KAYU DAN RUMAHNYA

September 6th, 2006

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun
dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan
keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Ia ingin beristirahat dan
menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan
keluarganya.Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang
pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan
sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi
pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera
berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan.

Dengan ogah-ogahan ia
mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya
selesailah rumah yang diminta oleh tuannya.Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang
baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak
begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah
yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.

‘Ini adalah rumahmu, ‘ katanya, ‘hadiah dari kami.’ Betapa terkejutnya
si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa
ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan
mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di
sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Teman, itulah
yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun
kehidupan dengan cara yang membingungkan dan kurang bertanggung jawab.Lebih
memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada
bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita
lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan
sendiri. <!–
D(["mb","

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani \nhidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si \ntukang kayu. Renungkan \'rumah\' yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul \npaku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan \'rumah\' \nkita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam \nseumur hidup.

Empat Rahib Memecah Kesunyian
Empat orang rahib \nmemutuskan berdiam diri selama satu bulan. Mereka memulainya dengan penuh \nsemangat, tetapi setelah satu hari salah seorang dari mereka berkata, "Aku lupa \napakah sudah mengunci pintu sel di biara sebelum kita berangkat,"

Yang \nlainnya berkata, "Bodoh engkau! Kami sudah mau diam satu bulan dan sekarang \nengkau membatalkannya."

Rahib ketiga berkata, "Engkau bagaimana? \nEngkau batal juga!"

Yang keempat, "Puji Tuhan, sayalah satu-satunya yang \nbelum berbicara."

Kesabaran Belajar
Seorang anak muda mengunjungi \nseorang ahli permata dan menyatakan maksudnya untuk berguru. Ahli permata itu \nmenolak pada mulanya, karena dia kuatir anak muda itu tidak memiliki kesabaran \nyang cukup untuk belajar. Anak muda itu memohon dan memohon sehingga akhirnya \nahli permata itu menyetujui permintaannya. "Datanglah ke sini besok pagi." \nkatanya.

Keesokan harinya, ahli permata itu meletakkan sebuah batu \nberlian di atas tangan si anak muda dan memerintahkan untuk menggenggamnya. Ahli \npermata itu meneruskan pekerjaannya dan meninggalkan anak muda itu sendirian \nsampai sore.

Hari berikutnya, ahli permata itu kembali menyuruh anak \nmuda itu menggenggam batu yang sama dan tidak mengatakan apa pun yang lain \nsampai sore harinya. Demikian juga pada hari ketiga, keempat, dan kelima. \n

Pada hari keenam, anak muda itu tidak tahan lagi dan bertanya, "Guru, \nkapan saya akan diajarkan sesuatu?"
Gurunya berhenti sejenak dan menjawab, \n"Akan tiba saatnya nanti," dan kembali meneruskan pekerjaannya. ",1]
);

//–>

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani
hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si
tukang kayu. Renungkan ‘rumah’ yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul
paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan ‘rumah’
kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam
seumur hidup.

A Story About A Brother

June 11th, 2006

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali
——————————–
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning,
dan punggung mereka menghadap ke langit.
Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya,
Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.
Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok,
dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku
terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi
Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian
berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia
terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu
bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa
mendatang?

Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata
setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis
meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi
insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah
akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku
berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya
diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah
berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi
bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan
hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air
matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana
mungkin
kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah
cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul
adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
keparat lemahnya?
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan
saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu
kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam
uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku
yang
membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan
sedikit
kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan
meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke
universitas
tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,
dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun
itu,
adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di
lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di
universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku
masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu
di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku
berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor
tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak
bilang
pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab,
tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir
jika
mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam
kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku
apa
pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu.
Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan,
“Saya melihat semua gadis kota memakainya.
Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku
menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk
membersihkan
rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang
pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka
pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap
waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”
Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata
mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali
suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal
bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun,
mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku
tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan
menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan
adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen
pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik,
dan masuk rumah sakit. Suamiku dan
aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada
kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya
seperti
ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak
mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan
saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu,
berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga
karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam
tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara
perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati
dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD,
ia
berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan
selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia
hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,
saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
“Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”
Dan
dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari : “I cried for my brother six times”